Archive for » Juni, 2010 «

A.     PENGERTIAN

Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan perut dan kontraksi.  (C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468)

Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaan panjangnya uretra. (C. Long , Barbara;1996 hal 338)

B. PENYEBAB

Striktur uretra dapat terjadi secara:

  1. Kongenital

Striktur uretra dapat terjadi secara terpisah ataupun bersamaan dengan anomali saluran kemih yang lain.

  1. Didapat.
  2. Cedera uretral (akibat insersi peralatan bedah selama operasi transuretral, kateter indwelling, atau prosedur sitoskopi)
  3. Cedera akibat peregangan
  4. Cedera akibat kecelakaan
  5. Uretritis gonorheal yang tidak ditangani
  6. Infeksi
  7. Spasmus otot
  8. Tekanan di luar misalnya pertumbuhan tumor

(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468  dan C. Long , Barbara;1996 hal 338)

C.     MANIFESTASI KLINIS

  1. Kekuatan pancaran dan jumlah urin  berkurang
  2. Gejala infeksi
  3. Retensi urinarius
  4. Adanya aliran balik dan mencetuskan sistitis, prostatitis dan pielonefritis

(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468)

Derajat penyempitan uretra:

  1. Ringan: jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen.
  2. Sedang: oklusi 1/3 s.d 1/2 diameter lumen uretra.
  3. Berat: oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra.

Ada derajat berat kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang dikenal dengan spongiofibrosis.

(Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 )

D.     PENCEGAHAN

Elemen penting dalam pencegahan adalah menangani infeksi uretral dengan tepat. Pemakaian kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama harus dihindari dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis alat uretral termasuk kateter.

(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468)

  1. PENATALAKSANAAN
    1. Filiform bougies untuk membuka jalan jika striktur menghambat pemasangan  kateter
      1. Medika mentosa

Analgesik non narkotik untuk mengendalikan nyeri.

Medikasi antimikrobial untuk mencegah infeksi.

  1. Pembedahan

-                     Sistostomi suprapubis

-                     Businasi ( dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-hati.

-                     Uretrotomi interna : memotong jaringan sikatrik uretra dengan pisau otis/sachse. Otis dimasukkan secara blind ke dalam buli–buli jika striktur belum total. Jika lebih berat dengan pisau sachse secara visual.

-                     Uretritimi eksterna: tondakan operasi terbuka berupa pemotonganjaringan fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis diantara jaringan uretra yang masih baik.

(Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 dan Doenges E. Marilynn, 2000 hal  672)

F.      PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Urinalisis  : warna kuning, coklat gelap, merah gelap/terang, penampilan keruh, pH : 7 atau lebih besar, bakteria.
  2. Kultur urin: adanya staphylokokus aureus. Proteus, klebsiella, pseudomonas, e. coli.
  3. BUN/kreatin  : meningkat
  4. Uretrografi: adanya penyempitan atau pembuntuan uretra. Untuk mengetahui panjangnya penyempitan uretra dibuat foto iolar (sisto) uretrografi.
  5. Uroflowmetri : untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi
  6. Uretroskopi : Untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra

(Basuki B. Purnomo; 2000 hal 126 dan Doenges E. Marilynn, 2000 hal  672)

G. PENGKAJIAN

  1. Sirkulasi

Tanda: peningkatan TD ( efek pembesaran ginjal)

  1. Eliminasi

Gejala: penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekurnsi berkemih

Tanda: adanya masa/sumbatan pada uretra

  1. Makanan dan cairan

Gejala; anoreksia;mual muntah, penurunan berat badan

  1. Nyeri/kenyamanan

Nyeri suprapubik

  1. Keamanan : demam
  2. Penyuluhan/pembelajaran

(Doenges E. Marilynn, 2000 hal  672)

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNCUL

1. Nyeri b.d insisi bedah sitostomi suprapubik

Tujuan : nyeri berkurang/ hilang

Kriteria hasil:

  1. Melaporkan penurunan nyeri
  2. Ekspresi wajah dan posisi tubuh terlihat relaks

Intervensi:

  1. Kaji sifat, intensitas, lokasi, lama dan faktor pencetus dan penghilang nyeri
  2. Kaji tanda nonverbal nyeri ( gelisah, kening berkerut, mengatupkan rahang,     peningkatan TD)
  3. Berikan pilihan tindakan rasa nyaman
  4. Bantu pasien mendapatkan posisi yang nyaman
  5. Ajarkan tehnik relaksasi dan bantu bimbingan imajinasi
  6. Dokumentasikan dan observasi efek dari obat yang diinginkan dan efek sampingnya
    1. Secara intermiten irigasi kateter uretra/suprapubis sesuaiadvis, gunakan salin normal steril dan spuit steril
    2. Masukkan cairan perlahan-lahan, jangan terlalu kuat.
    3. Lanjutkan irigasi sampai urin jernih tidak ada bekuan.
    4. Jika tindakan gagal untuk mengurangi nyeri, konsultasikan dengan dokter untuk penggantian dosis atau interval obat.

a) Perubahan pola eliminasi perkemihan b.d  sitostomi suprapubik

Kriteria hasil:

a. kateter tetap paten pada tempatnya

b. Bekuan irigasi keluar dari dinding kandung kemih dan tidak menyumbat aliran darah melalui kateter

c. Irigasi dikembalikan melalui aliran keluar tanpa retensi

d.Haluaran urin melebihi 30 ml/jam

e. Berkemih tanpa aliran berlebihan atau bila retensi dihilangkan

Intervensi:

  1. Kaji uretra dan atau kateter suprapubis terhadap kepatenan
  2. Kaji warna, karakter dan aliran urin serta adanya bekuan melalui kateter tiap 2 jam
  3. Catat jumlah irigan dan haluaran urin, kurangi irigan dengan haluaran , laporkan retensi dan haluaran urin <30 ml/jam
  4. Beritahu dokter jika terjadi sumbatan komplet pada kateter untuk menghilangkan bekuan
  5. Pertahankan irigasi kandung kemih kontinu sesuai instruksi
  6. Gunakan salin normal steril untuk irigasi
  7. Pertahankan tehnik steril
  8. Masukkan larutan irigasi melalui lubang yang terkecil dari kateter
  9. Atur aliran larutan pada 40-60 tetes/menit atau untuk mempertahankan urin jernih
  10. Kaji dengan sering lubang aliran terhadap kepatenan
  11. Berikan 2000-2500 ml cairan oral/hari kecuali dikontraindikasikan

b) Resiko terhadap infeksi b.d adanya kateter suprapubik, insisi bedah sitostomi suprapubik

Tujuan: tidak terjadi infeksi

Hasil yang diharapkan:

  1. Suhu tubuh pasien dalam batas normal
  2. Insisi bedah kering, tidak terjadi infeksi
  3. Berkemih dengan urin jernih tanpa kesulitan

Intervensi:

c)         Periksa suhu setiap 4 jam dan laporkan jikadiatas 38,5 derajat C

d)         Perhatikan karakter urin, laporkan bila keruh dan bau busuk

e)         Kaji luka insisi adanya nyeri, kemerahan, bengkak, adanya kebocoran urin, tiap 4 jam sekali

f)         Ganti balutan dengan menggunakan tehnik steril

g)         Pertahankan sistem drainase gravitas tertutup

h)         Pantau dan laporkan tanda dan gejala infeksi saluran perkemihan

i)          Pantau dan laporkan jika terjadi kemerahan, bengkak, nyeri atau adanya kebocoran di sekitar kateter suprapubis. (M. Tucker, Martin;1998)

WOC / PATHWAY ADA BISA DIDOWNLOAD

DAFTAR PUSTAKA :

  1. Wim de, Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Alih bahasa R. Sjamsuhidayat  Penerbit Kedokteran, EGC, Jakarta, 1997
  2. Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Volume 3, Bandung, Yayasan IAPK pajajaran,  1996
  3. M. Tucker, Martin, Standart Perawatan Pasien : Proses keperawatan, Diagnosis dan Evaluasi, Edisi V, Volume 3, Jakarta, EGC,1998
  4. Susanne, C Smelzer, Keperawatan Medikal Bedah (Brunner &Suddart) , Edisi VIII, Volume 2, Jakarta, EGC, 2002
  5. Basuki B. purnomo, Dasar-Dasar Urologi, Malang, Fakultas kedokteran Brawijaya,  2000

6. Doenges E. Marilynn, Rencana Asuhan keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan

Pendokumentasian Perawatan Pasien, Jakarta. EGC. 2000

7. http://akperppni.ac.id

UNTUK MENDAPATKAN ASKEP STRIKTUR URETRA DIATAS SILAHKAN DOWNLOAD DISINI

UNTUK MENDAPATKAN SEMUA ASKEP DAPAT KLIK DI

Incoming search terms:

ASKEP KLIEN DENGAN TETANUS

  1. KONSEP DASAR
    I. Pengertian
    Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman clostiridium tetani yang dimanefestasikan dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu nampak pada otot masester dan otot rangka.II. Etiologi
    Clostiridium tetani adalah kuman yang berbentuk batang seperti penabuh genderang berspora, golongan gram positif, hidup anaerob. Kuman ini mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik (tetanus spasmin), yang mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Timbulnya teteanus ini terutama oleh clostiridium tetani yang didukung oleh adanya luka yang dalam dengan perawatan yang salah.

    III. patofisiologi
    Suasana yang memungkinkan organisme anaerob berploriferasi dapat disebabkan berbagai keadaan antara lain :

    a. luka tusuk dalam, misalnya luka tusuk karena paku, kuku, pecahan kaleng, pisau, cangkul dan lain-lain.
    b. Luka karena kecelakaan kerja (kena parang0, kecelakaan lalu lintas.
    c. Luka ringan seperti luka gores, lesi pada mata, telinga dan tonsil.

    Cara kerja toksin
    Toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui sumbu limbik masuk ke sirkulasi darah dan masuk ke Susunan Saraf Pusat (SSP). Toksin bersifak antigen , sangat mudah diikat jaringan syaraf dan bila dalam keadaan terikat tidak dapat lagi dinetralkan oleh toksin spesifik. Toksin yang bebas dalam darah sangat mudah dinetrakan oleh antitoksin spesifik.

    IV. Faktor predisposisi
    a. Umur tua atau anak-anak
    b. Luka yang dalam dan kotor
    c. Belum terimunisasi

    V. Tanda dan gejala
    a. Masa inkubasi tetanus berkisar antara 2-21 hari
    b. Ketegangan otot rahang dan leher (mendadak)
    c. Kesukaran membuka mulut (trismus)
    d. Kaku kuduk (epistotonus), kaku dinding perut dan tulang belakang
    e. Saat kejang tonik tampak risus sardonikus

    VII. Gambaran umum yang khas pada tetanus
    a. Badan kaku dengan epistotonus
    b. Tungkai dalam ekstensi
    c. Lengan kaku dan tangan mengepal
    d. Biasanya keasadaran tetap baik
    e. Serangan timbul proksimal dan dapat dicetuskan oleh karena :
    1. Rangsang suara, rangsang cahaya, rangsang sentuhan, spontan
    2. Karena kontriksi sangat kuat dapat terjadi aspiksia, sianosis, retensi urine, fraktur vertebralis (pada anak-anak), demam ringan dengan stadium akhir. Pada saat kejang suhu dapat naik 2-4 derakat celsius dari normal, diaphoresis, takikardia dan sulit menelan.

    VIII. Prognosa
    Sangat buruk bila ada OMP (Otitis Media Purulenta), luka pada kulit kepala.

    IX. Pemeriksaan diagnostik
    a. Diagnosa didasarkan pada riwayat perlukaan disertai keadaan klinis kekakuan otot rahang.
    b. Laboratorium ; leukositosis ringan, peninggian tekanan otak, deteksi kuman sulit
    c. Pemeriksaan Ecg dapat terlihat gambaran aritmia ventrikuler

    x. Penatalaksanaan

    a. Umum
    Tetanus merupakan keadaan darurat, sehingga pengobatan dan perawatan harus segera diberikan :
    1. Netralisasi toksin dengan injeksi 3000-6000 iu immunoglobulin tetanus disekitar luka 9tidak boleh diberikan IV)
    2. Sedativa-terapi relaksan ; Thiopental sodium (Penthotal sodium) 0,4% IV drip; Phenobarbital (luminal) 3-5 mg/kg BB diberikan secara IM, iV atau PO tiap 3-6 jam, paraldehyde 9panal) 0,15 mg/kg BB Per-im tiap 4-6 jam.
    3. Agen anti cemas ; Diazepam (valium) 0,2 mg/kg BB IM atau IV tiap 3-4 jam, dosis ditingkatkan dengan beratnya kejang sampai 9,5 mg/kg BB/24 jam untuk dewasa.
    4. Beta-adrenergik bolcker; propanolol 9inderal) 0,2 mg aliquots, untuk total dari 2 mg IV untuk dewasa atau 10 mg tiap 8 jam intragastrik, digunakan untuk pengobatan sindroma overaktivitas sempatis jantung.
    5. Penanggulangan kejang; isolasi penderita pada tempat yang tenang, kurangi rangsangan yang membuat kejang, kolaborasi pemeberian obat penenang.
    6. Pemberian Penisilin G cair 10-20 juta iu (dosis terbagi0 dapat diganti dengan tetraciklin atau klinamisin untuk membunuh klostirida vegetatif.
    7. Pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit.
    8. Diit tKTP melalui oral/ sounde/parenteral
    9. Intermittent positive pressure breathing (IPPB) sesuai dengan kondisi klien.
    10. Indwelling cateter untuk mengontrol retensi urine.
    11. Terapi fisik untuk mencegah kontraktur dan untuk fasilitas kembali fungsi optot dan ambulasi selama penyembuhan.

    b. Pembedahan
    1. Problema pernafasan ; Trakeostomi (k/p) dipertahankan beberapa minggu; intubasi trakeostomi atau laringostomi untuk bantuan nafas.
    2. Debridemen atau amputasi pada lokasi infeksi yang tidak terdeteksi

    B. ASUHAN KEPERWATAN

    I. Pengkajian
    1. Pengkajian Umum
    a. Riwayat penyakit sekarang; adanya luka parah atau luka bakar dan imunisasi yang tidak adekuat.
    b. Sistem Pernafasan ; dyspneu asfiksia dan sianosis akibat kontaksi otot pernafasan
    c. Sistem kardio vaskuler; disritmia, takikardia, hipertensi dan perdarahan, suhu tubuh awal 38-40 C atau febril, terminal 43-44 C
    d. Sistem Neurolgis; (awal) irritability, kelemahan, (akhir) konvulsi, kelumpuhan satu atau beberapa saraf otak.
    e. Sistem perkemihan; retensi urine (distensi kandung kencing dan urine out put tidak ada/oliguria)
    f. Sistem pencernaan; konstipasi akibat tidak adanya pergerakan usus.
    g. Sistem integumen dan muskuloskletal; nyeri kesemutan tempat luka, berkeringan (hiperhidrasi). Pada awalnya didahului trismus, spasme oto muka dengan meningkatnya kontraksi alis mata, risus sardonicus, otot-otot kaku dan kesulitan menelan. Apabila hal ini berlanjut akan terjadi status konvulsi dan kejang umum.

    2. Setelah dianalisa dari data yang ada maka timbul beberapa masalah keperawtan atau amasalah kolaboratif.
    a. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum pada trakea dan spame otot pernafasan.
    b. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan.
    c. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efeks toksin (bakterimia)
    d. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kekakuan otot pengunyah
    e. Hubungan interpersonal terganggu berhubungan dengan kesulitan bicara
    f. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kondisi lemah dan sering kejang
    g. Risiko terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake yang kurang dan oliguria
    h. Risiko terjadi cedera berhubungan dengan sering kejang
    i. Kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit tetanus dan penanggulangannya berhbungan dengan kurangnya informasi.
    j. Kurangnya kebutuhan istirahat berhubungan dengan seringnya kejang

    II. Rencana Keperawatan

    a. Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sputum pada trakea dan spame otot pernafasan, ditandai dengan ronchi, sianosis, dyspneu, batuk tidak efektif disertai dengan sputum dan atau lendir, hasil pemeriksaan lab, Analisa Gasa Darah abnormal (Asidosis Respiratorik)
    Tujuan : Jalan nafas efektif
    Kriteria :
    - Klien tidak sesak, lendir atau sleam tidak ada
    - Pernafasan 16-18 kali/menit
    - Tidak ada pernafasan cuping hidung
    - Tidak ada tambahan otot pernafasan
    - Hasil pemeriksaan laboratorium darah Analisa Gas Darah dalam batas normal (pH= 7,35-7,45 ; PCO2 = 35-45 mmHg, PO2 = 80-100 mmHg)

    Intervensi dan Rasional
    1. Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi
    R/ Secara anatomi posisi kepala ekstensi merupakan cara untuk meluruskan rongga pernafasan sehingga proses respiransi tetap berjalan lancar dengan menyingkirkan pembuntuan jalan nafas.

    2. Pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara nafas (adakah ronchi) tiap 2-4 jam sekali
    R/ Ronchi menunjukkan adanya gangguan pernafasan akibat atas cairan atau sekret yang menutupi sebagian dari saluran pernafasan sehingga perlu dikeluarkan untuk mengoptimalkan jalan nafas.

    3. Bersihkan mulut dan saluran nafas dari sekret dan lendir dengan melakukan suction
    R/ Suction merupakan tindakan bantuan untuk mengeluarkan sekret, sehingga mempermudah proses respirasi.

    4. Oksigenasi
    R/ Pemberian oksigen secara adequat dapat mensuplai dan memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah terjadinya hipoksia.

    5. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
    R/ Dyspneu, sianosis merupakan tanda terjadinya gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul takikardia dan capilary refill time yang memanjang/lama.

    6. Observasi timbulnya gagal nafas.
    R/ Ketidakmampuan tubuh dalam proses respirasi diperlukan intervensi yang kritis dengan menggunakan alat bantu pernafasan (mekanical ventilation).

    7. Kolaborasi dalam pemberian obat pengencer sekresi(mukolitik)
    R/ Obat mukolitik dapat mengencerkan sekret yang kental sehingga mempermudah pengeluaran dan memcegah kekentalan.

    b. Gangguan pola nafas berhubungan dengan jalan nafas terganggu akibat spasme otot-otot pernafasan, yang ditandai dengan kejang rangsanng, kontraksi otot-otot pernafasan, adanya lendir dan sekret yang menumpuk.
    Tujuan : Pola nafas teratur dan normal
    Kriteria :
    - Hipoksemia teratasi, mengalami perbaikan pemenuhan kebutuahn oksigen
    - Tidak sesak, pernafasan normal 16-18 kali/menit
    - Tidak sianosis.

    Intervensi dan raasional.
    1. Monitor irama pernafasan dan respirati rate
    R/ Indikasi adanya penyimpangan atau kelaianan dari pernafasan dapat dilihat dari frekuensi, jenis pernafasan,kemampuan dan irama nafas.
    2. Atur posisi luruskan jalan nafas.
    R/ Jalan nafas yang longgar dan tidak ada sumbatan proses respirasi dapat berjalan dengan lancar.

    3. Observasi tanda dan gejala sianosis
    R/ Sianosis merupakan salah satu tanda manifestasi ketidakadekuatan suply O2 pada jaringan tubuh perifer .

    4. Oksigenasi
    R/ Pemberian oksigen secara adequat dapat mensuplai dan memberikan cadangan oksigen, sehingga mencegah terjadinya hipoksia.

    5. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam
    R/ Dyspneu, sianosis merupakan tanda terjadinya gangguan nafas disertai dengan kerja jantung yang menurun timbul takikardia dan capilary refill time yang memanjang/lama.

    6. Observasi timbulnya gagal nafas.
    R/ Ketidakmampuan tubuh dalam proses respirasi diperlukan intervensi yang kritis dengan menggunakan alat bantu pernafasan (mekanical ventilation).

    7. Kolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah.
    R/ Kompensasi tubuh terhadap gangguan proses difusi dan perfusi jaringan dapat

    c. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan efeks toksin (bakterimia) yang dditandai dengan suhu tubuh 38-40 oC, hiperhidrasi, sel darah putih lebih dari 10.000 /mm3
    Tujuan Suhu tubuh normal
    Kriteria : 36-37oC, hasil lab sel darah putih (leukosit) antara 5.000-10.000/mm3

    1. Atur suhu lingkungan yang nyaman
    R/ Iklim lingkungan dapat mempengaruhi kondisi dan suhu tubuh individu sebagai suatu proses adaptasi melalui proses evaporasi dan konveksi.

    2. Pantau suhu tubuh tiap 2 jam
    R/ Identifikasi perkembangan gejala-gejala ke arah syok exhaution.

    3. Berikan hidrasi atau minum ysng cukup adequat
    R/ Cairan-cairan membantu menyegarkan badan dan merupakan kompresi badan dari dalam.

    4. Lakukan tindakan teknik aseptik dan antiseptik pada perawatan luka.
    R/ Perawatan lukan mengeleminasi kemungkinan toksin yang masih berada disekitar luka.

    5. Berikan kompres dingin bila tidak terjadi ekternal rangsangan kejang.
    R/ Kompres dingin merupakan salah satu cara untuk menurunkan suhu tubuh dengan cara proses konduksi.

    6. Laksanakan program pengobatan antibiotik dan antipieretik.
    R/ Obat-obat antibakterial dapat mempunyai spektrum lluas untuk mengobati bakteeerria gram positif atau bakteria gram negatif. Antipieretik bekerja sebagai proses termoregulasi untuk mengantisipasi panas.

    7. Kolaboratif dalam pemeriksaan lab leukosit.
    R/ Hasil pemeriksaan leukosit yang meningkat lebih dari 10.000 /mm3 mengindikasikan adanya infeksi dan atau untuk mengikuti perkembangan pengobatan yang diprogramkan.

    d. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan kekakuan otot pengunyah yang ditandai dengan intake kurang, makan dan minuman yang masuk lewat mulut kembali lagi dapat melalui hidung dan berat badan menurun ddiserta hasil pemeriksaan protein atau albumin kurang dari 3,5 mg%.

    Tujuan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
    Kriteria :
    - BB optimal
    - Intake adekuat
    - Hasil pemeriksaan albumin 3,5-5 mg %
    Intervensi dan rasional
    1. Jelaskan faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam makan dan pentingnya makanan bagi tubuh

    R/ Dampak dari tetanus adalah adanya kekakuan dari otot pengunyah sehingga klien mengalami kesulitan menelan dan kadang timbul refflek balik atau kesedak. Dengan tingkat pengetahuan yang adequat diharapkan klien dapat berpartsipatif dan kooperatif dalam program diit.
    2. Kolaboratif :
    a. Pemberian diit TKTP cair, lunak atau bubur kasar.
    R/ Diit yang diberikan sesuai dengan keadaan klien dari tingkat membuka mulut dan proses mengunyah.

    b. Pemberian carian per IV line
    R/ Pemberian cairan perinfus diberikan pada klien dengan ketidakmampuan mengunyak atau tidak bisa makan lewat mulut sehingga kebutuhan nutrisi terpenuhi.

    c. Pemasangan NGT bila perlu
    R/ NGT dapat berfungsi sebagai masuknya makanan juga untuk memberikan obat.

    KEPUSTAKAAN

  2. Soeparman; 1990; Ilmu Penyakit Dalam; Universitas Indonesia Press; Jakarta
  3. Deanna etc.: 1991; Infectious Diseases; St. Louis Mosby Year Book.
  4. Theodore R.; 1993; Ilmu Bedah; EGC; Jakarta
  5. http://akperppni.ac.id
  6. Marlyn Doengoes; 1993; Nursing Care Plan; Edisi III, Philadelpia

Untuk mendapatkan ASKEP TETANUS silahkan Klik DISINI

Untuk Mendapatkan ASKEP YANG LEBIH BANYAK DOWNLOAD DISINI

Incoming search terms:

Pengertian

Kondisi terminal adalah suatu proses yang progresif menuju kematian berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik, psikososial dan spiritual bagi individu (Carpenito, 1999)

Askep terminal dapat dimulai pada minggu-minggu, hari-hari dan jaminan terakhir kehidupan dimana bertujuan:
1.Mempertahankan hidup
2.Menurunkan stress
3.Meringankan dan mempertahankan kenyamanan selama mungkin (Weisman)

Secara umum kematian adalah sebagian proses dari kehidupan yang dialami oleh siapa saja meskipun demikian, hal tersebut tetap saja menimbulkan perasaan nyeri dan takut, tidak hanya pasien akan juga keluarganya bahkan pada mereka yang merawat dan mengurusnya.

Penderita yang akan meninggal tidak akan kembali lagi ke tengah keluarga, kenyataan ini sangat berat bagi keluarga yang akan ditinggalkannya Untuk menghindari hal diatas bukan hanya keluarganya saja yang berduka bahkan klien lebih tertekan dengan penyakit yang dideritanya.

Jenis-Jenis Penyakit Terminal
Adapun yang dapat dikategorikan sebagai penyakit terminal adalah:
1.Penyakit-penyakit kanker.
2.Penyakit-penyakit infeksi.
3.Congestif Renal Falure (CRF)
4.Stroke Multiple Sklerosis.
5.Akibat kecelakaan fatal.
6.AIDS.

Manifestasi Klinik
Fisik

  • Gerakan pengindaran menghilang secara berangsur-angsur dimulai dari ujung kaki dan ujung jari.
  • Aktivitas dari GI berkurang.
  • Reflek mulai menghilang.
  • Suhu klien biasanya tinggi tapi merasa dingin dan lembab terutama pada kaki dan tangan dan ujung-ujung ekstremitas.
  • Kulit kelihatan kebiruan dan pucat.
  • Denyut nadi tidak teratur dan lemah.
  • Nafas berbunyi, keras dan cepat ngorok.
  • Penglihatan mulai kabur.
  • Klien kadang-kadang kelihatan rasa nyeri.
  • Klien dapat tidak sadarkan diri.

Psikososial
Sesuai dengan fase-fase kehilangan menurut seorang ahli E. Kuber Ross mempelajari respon-respon atas menerima kematian dan maut secara mendalam dari hasil penyelidikan/penelitiannya yaitu:

Respon kehilangan
1).Rasa takut diungkapkan dengan ekspresi wajah (air muka), ketakutan, cara tertentu untuk mengulurkan tangan.
2).Cemas diungkapkan dengan cara menggerakkan otot rahang dan kemudian mengendor.
3).Rasa sedih diungkapkan dengan mata setengah terbuka atau menanggis.

Hubungan dengan orang lain
Kecemasan timbul akibat ketakutan akan ketidak mampuan untuk berhubungan secara interpersonal serta akibat penolakan.

Untuk mendapatkan ASKEP Klien Terminalis silahkan download  Disini

Jika membutuhkan lebih banyak lagi ASKEP silahkan download DISINI

Incoming search terms:

Category: KEPERAWATAN JIWA  Tags: , ,  Comments off

ASKEP BURSITIS

Definisi

Bursitis adalah peradangan bursa, yang terjadi pada tempat perlekatan tendon atau otot dengan tulang oleh sebab yang belum diketahui dengan pasti.

Bursitis adalah peradangan pada bursa yang disertai rasa nyeri. Bursa adalah kantong datar yang mengandung cairan sinovial, yang memudahi pergerakan normal dari beberapa sendi pada otot dan mengurangi gesekan.

Bursa terletak pada sisi yang mengalami gesekan, terutama di tempat dimana atau otot melewati tulang. Dalam keadaan normal, sebuah bursa mengandung sangat sedikit cairan. Tetapi jika terluka, bursa akan meradang dan terisi oleh cairan.

Bursa yang sering terkena adalah :

1. Bursa sub akromial dan bursa deltoid pada bahu yaitu bursa yang paling penting dalam tubuh, inflamasi pada bursa ini menimbulkan perasaan nyeri akut serta pergerakan yang terbatas terutama gerakan abduksi pada sendi bahu, dan nyeri menetap pada insersi deltoid terutama pada malam hari. Sering kali sekunder akibat robeknya bungkus rotator yang terjadi tanpa di ketahui.

2. Bunion bursitis yaitu daerah pembengkakan yang mengeras pada permukaan metakarpofalangeal I. penanggulangan dengan aspirasi cairan pada bagian yang membengkak dan suntikan kortikosteroid local.

3. Bursitis Achilles yang terdapat pada perlekatan tendon Achilles dengan tulang kallaneus (retrokalkaneal bursa) dan di antara bursa tersebut dan kulit (bursa sub kutaneous). Menimbulkan rasa nyeri di daerah tersebut terutama pada kalkaneus posterior. Mudah untuk melakukan suntikan kortikosteroid dan xilokain pada daerah pembengkakan di sini, tetapi harus hati-hati tidak boleh ada bolus pada tendon untuk menghindari risiko rupture.

4. Heel spur bursitis. Menimbulkan rasa nyeri pada daerah tumit. Suntikan local kortikosteroid dan atau lidokain sangat membantu.

5. Anserin bursitis, sering disalah tafsirkan sebagai osteortritis karena dijumpai pada wanita tua bertubuh gemuk, yaitu berupa rasa nyeri, tegang (tender) dan kadang-kadang membengkak dan terasa panas di daerah lutut bagian medial inferior, distal garis sendi.

6. Bursitis pre patellar (house maid’s knee dengan keluhan yang khas pada lutut, yaitu rasa nyeri sewaktu berlutut, terasa kaku, bengkak dan berwarna merah pada bagian anterior lutut (patela). Penyebab yang paling sering karena lutut sering bertumpu pada lantai. Berbeda dengan sinovitis pada lutut yang menimbulkan pembengkakan di daerah belakang bagian pinggir lutut.

7. Bursitis olekranon, terdapat pada puncak siku (tip). Hal ini sering terjadi pada posisi dengan menggunakan siku atau sering jalan tiarap. Walaupun inflamasinya jelas tetapi kadang-kadang rasa nyeri hanya minimal. Juga dapat timbul pada artristis rheumatoid, gout, akibat trauma dan infeksi. Pencegahan dilakukan dengan memakai alas karet busa untuk protektif. Kalau perlu dapat diberi suntikan local kortikosteroid.

8. Bursitis kalkaneal, ada 3 bursa di sekeliling kalkanrus yang dapat mengalami inflamasi dan menimbulkan rasa sakit yaitu :

Bursitis retro kalkaneal pada bagian anterior Achilles.

Bursitis post kalkaneal pada bagianü posterior Achilles

Bursitis sub kalkaneal pada bagian inferior tulang kalkaneus. Bursitis yang berulang-ulang di tempat ini dapat mengakibatkan tebdnitis pada Achilles dan dapat mengakibatkan rupture tendon.

9. Bursitis pada ibu jari metakarpofangeal I, kelingking dan tumit. Hal ini terutama di sebabkan ukuran sepatu yang tidak sesuai.

10. Bursitis hip (pada pinggul), ada 3 yang terpenting yaitu :

bursitis trokanter, pada inseri otot gluteus medius di trokanter femur, menimbulkan rasa nyeri pada bagian lateral pinggul sebelah bawah trokanter dan dapat menjalar ke bawah, ke kaki atau lutut. Rasa nyeri istimewa pada malam hari dan bertamnah nyeri kalau dibengkokkan, rotasi internal atau kalau mendapat penekanan di daerah trokanter tersebut dijumpai otot-otot menegang kaku. Dan pada foto roentgen terlihat adanya deposit kalsium. Penanggulangan dengan suntikan local lidocain 1%.

Bursitis iliopektineal, menimbulkan rasaü nyeri dan tegang di daerah lateral segi tiga skarpa (daerah segi tiga yang dibatasi oleh ligament inguinal,

Bursitis digolongkan menjadi 2 :

Bursitis akut terjadi secara mendadak.

Jika disentuh atau digerakkan, akan timbul nyeri di daerah yang meradang. Kulit diatas bursa tampak kemerahan dan membengkak. Bursitis akut yang disebabkan oleh suatu infeksi atau gout menyebabkan nyeri luar biasa dan daerah yang terkena tampak kemerahan dan teraba hangat.

Bursitis kronis merupakanü akibat dari serangan bursitis akut sebelumnya atau cedera yang berulang. Pada akhirya, dinding bursa akan menebak dan di dalamnya terkumpul endapan kalsium padat yang menyerupai kapur. Bursa yang telah mengalami kerusakan sangat peka terhadap peradangan tanbah. Nyeri menahun dan pembengkakan bisa membatasi pregerakan, sehingga otot mengalami penciutan (atrofi) dan menjadi lemah. Serangan bursitis kronis berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering kambuh.

Etiologi

Penyebabnya sering kali tidak diketahui, tetapi burnitis dapa disebabkan oleh :

- Cedera

- Gout

- Pseudogout

- Arthritis rematoid

- Infeksi.

Yang paling mudah terkena bursitis adalah bahu, bagian tubuh lainnya yang juga terkena bursitis adalah sikut, pinggul, lutut, jari kaki, dan tumit.

Tanda dan Gejala

Gejala utama pada bursitis pada umunya berupa pembengkakan lokal, panas, merah, dan nyeri. Bursitis menyebabkan nyeri dan cenderung membatasi pergerakan, tetapi gejala yang khusus tergantung kepada lokasi bursa yang meradang. Jika bursa di bahu meradang, maka jika penderita mengangkat lengannya untuk memakai baju akan mengalami kesulitan dan merasakan nyeri.

Pengobatan

Bursa yang terinfeksi harus dikeringakan dan diberikan obat antibiotik. Burnitis akut non-infeksius biasanya diobati dengan istirahat sementara waktu sendi yang terkena tidak digerakkan dan diberikan obat peradangan non-steroid (misalnya indometasin, ibuprofen atau naproksen). Kadang diberikan obat pereda nyeri. Selain itu bisa disuntikkan campuran daru obat bius lokan dan kortikosteroid langsung ke dalam bursa. Penyuntikan ini mungkin perlu dilakukan lebih dari satu kali. Pada burnitis yang berat dibrikan kortikostiroid (misalnya perdnison) per-oral (ditelan) selama beberapa hari. Setelah nyeri mereda, dianjurkan untuk melakukan latihan khusus guna meningkatkan daya jangkau sendi. Bursitis kronis diobati dengan cara yang sama. Kadang endapan kalsium yang besar di bahu bisa dibuang melalui jarun atau melalui pembadahan. Kortikosteoid bisa langsung disumtikkan ke dalam sendi. Terapi fisik dilakukan untuk mengemblikan fungsi sendi. Latihan bisa membantu mengembalikan kekuatan otot dan daya jankau sendi. Bursitis sering kambuh jika penyebabnya ( misalnya, gout, arthritis rematoid atau pemakaianberlebihan) tidak diatasi.
Pemeriksaan Penunjang

Ada pemeriksaan khusus untuk memastikan adanya bursitis yaitu dengan radiografi. Pada daerah yang terserang biasanya menunjukkan adanya klasifikasi dalam bursa, tendon atau jaringan lunak yang berdekatan.
Diagnosa Banding

- Sepsis atau sinflamasi : aspirasi dan biakan

- Mungkin sukar dibedakan antara bursitis dan arthritis inflamasi akut, selulitis, atau ostiomieolitis

- Diagnosa sering ditegakkan berdasarkan lokasi nyeri pada tempat yang klasik

- Sendi yang terserang biasanya mempunyai ruang gerak pasif yang hampir normal

Untuk mendapatkan Asuhan keperawatan Bursitis silahkan KLIK DISINI

Jika menginginkan lebih banyak ASKEP YANG SIAP DOWNLOAD Silahkan logo  

Incoming search terms:

Category: SISTEM MUSCULOSKLETAL  Tags: ,  Comments off